Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Akhlak’ Category

Makna Keikhlasan

Ketika Adam telah sempurna diciptakan, Allah SWT bertitah agar seluruh malaikat sungkur bersujud sebagai simbol penghormatan atas kemuliaannya. Tak satupun di antara mereka membangkang terhadap perintah tersebut kecuali Iblis. Allah SWT bertanya, ”Hai Iblis, apa gerangan yang membuatmu enggan bersujud kepada sesuatu yang telah Kuciptakan dengan kedua TanganKu. Apakah kau menyombongkan diri ataukah kau merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi derajatnya?”. Dengan angkuh Iblis menyatakan keengganannya untuk bersujud karena ia merasa lebih baik; ia tercipta dari api sementara Adam tercipta dari tanah!. Sikap rasialis inilah kemudian membuatnya terusir dari surga dan menjadikannya sebagai makhluk terkutuk, “Sesungguhnya kutukanKu tetap atasmu sampai hari pembalasan!”.
Iblis “legowo” dengan keputusan tersebut. Namun ia tak kurang akal, Iblis mohon kepada Allah agar masa hidupnya ditangguhkan (langgeng) sampai hari ketika sangkakala ditiupkan, sebagai pertanda kematian semua makhluk. Iblis pun bersumpah,

قَالَ فَبِعِـزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّــهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Maka demi kekuasaan dan keagunganMu ya Rabb sungguh aku sesatkan semua keturunan Adam, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.”(Shaad[38]:82-83)

Para mufassir di antaranya Imam Thabari, Syaukani, al-Baidlawi dll. menjelaskan “mukhlasin” (dengan membaca fathah) pada ayat terbaca di atas bermakna orang-orang yang dimurnikan oleh Allah SWT hanya untuk beribadah kepadaNya dan diselamatkan dari tipu daya Iblis. Sebagian yang lain di antaranya al-Alusi, al-Qurthubi dan juga al-Baidlawi meriwayatkan bacaan dengan kasrah sehingga ia berbunyi “mukhlishin” yang berarti orang-orang yang mengikhlaskan (memurnikan) hati mereka untuk beribadah hanya kepada Allah SWT, membersihkan diri dari segala unsur yang merusak dan riya’.

Perbedaan qira’ah (bacaan) tersebut tidaklah kontradiktif. Keduanya dapat dipadukan untuk memahami bahwa kita takkan pernah selamat dari segala tipu daya Iblis di dunia ini kecuali dengan sikap ikhlas, sementara ikhlas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari karunia Allah SWT Ini berarti, keikhlasan hati yang telah kita raih tidak lain ialah atas izin, kehendak dan karuniaNya semata.

Narasi terbaca pada surat Shad [38]:82-83 di atas, dan ditegaskan pula dalam al-Hijr [15]:39-42 mengajarkan bahwa, kapasitas apapun yang kita miliki baik itu berupa ilmu pengetahuan, kehormatan, jabatan, integritas, harta, keturunan dan lain-lain takkan mampu menyelamatkan kita dari tipu daya Iblis yang sangat dahsyat itu. Dalam berinteraksi dengan jebakan dan godaan Iblis satu-satunya yang bermakna dan tak terkalahkan ialah “keikhlasan”. Wajar jika imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis demikian “Telah terbuka bagi mereka yang memiliki kejernihan hati melalui penginderaan iman dan cahaya Al-Qur’an bahwa sekali-kali tidaklah seseorang sampai pada kebahagiaan hakiki kecuali dengan ilmu dan ibadah. Manusia semuanya sengsara kecuali mereka yang berilmu. Orang-orang yang berilmu semuanya sengsara kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Orang-orang yang mengamalkan ilmunyapun semuanya sengsara kecuali mereka yang ikhlas. Sedangkan mereka yang ikhlas berada pada marabahaya yang besar karena beramal tanpa niat berarti kesia-siaan dan niat tanpa kemurnian berarti riya’. Sedangkan orang yang berlaku riya’ cukuplah dikatakan sebagai munafiq.”

Ikhlas adalah pembersihan hati dari segala noda, sedikit maupun banyak, sehingga kita mencapai taqarrub kepada Allah SWT hanya karenaNya semata. Tak mungkin hal ini kita raih kecuali atas dasar cinta (mahabbah) kepada Allah dan berorientasi akherat. Ikhlas adalah akumulasi dan titik perpaduan sejati antara hati yang bersih dan akhlak yang terpuji. Hati yang didominasi oleh mahabbah dan orientasi akherat melahirkan kebiasaan hidup yang penuh dengan nilai-nilai ilahiah. Demikian pula hati yang sarat dengan tujuan duniawi, jabatan, kekayaan dan apa saja selain Allah SWT seluruh gerak hidupnya akan melahirkan malapetaka yang membinasakan dirinya sendiri.

Islam mengajarkan kita bahwa kehidupan hakiki dan abadi ialah kehidupan akherat. Dunia menjadi ladang investasi dan medan berkarya untuk meraih kehidupan yang kekal itu. Dunia bukan tujuan, melainkan sebuah ruang transit, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke negeri akherat. Di sini, mati bermakna sebagai gerbang menuju kampung abadi. Juga menjadi pintu pertemuan kita dengan Sang Khaliq, Dzat Pencipta kita. Di sini pula, Rasulullah SAW melantunkan satu bagian dari do’a panjang beliau, “Ya Allah, anugerahi aku rasa rindu dan cinta untuk segera bertemu dengan Dzat-Mu Yang Maha Agung.”

Karakter dan orientasi manusia dalam berbuat diterangkan pula oleh Allah SWT. :”Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akherat.” (Ali Imran [3]:152).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا. وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra’[17]:18-19).

Motivasi beramal yang “hanya” berorientasi dunia samata juga dikecam oleh Rasulullah SAW dalam sabda berikut ini: “Celakalah penghamba dinar. Celakalah penghamba dirham. Celakalah penghamba khamishah jika ia diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.”(HR Bukhari).

Khamishah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan sulaman atau garis-garis yang menarik dan amat indah. Pesan moral dalam hadis di atas ialah teguran keras terhadap orang-orang yang sangat ambisius dengan kekayaan duniawi, sehingga ia terbelenggu dan menjadi penghamba harta benda. Mereka, tegas Nabi SAW, adalah berhak untuk celaka dan sengsara. Bandingkan dengan kisah tiga orang yang diadili oleh Allah SWT; seorang qari’/intelek yang hendak dihormati karena ilmunya, seorang yang mati syahid karena ingin dikatakan sebagai pahlawan pemberani dan seorang dermawan yang hendak populer dengan murah hatinya. Ketiganya bangga dengan prestasi hidupnya masing-masing. Tapi pada akhirnya, final kehidupan mereka mengenaskan : dicampakkan ke neraka!(HR Muslim).

Ciri-ciri orang Mukhlish

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, keikhlasan akan terpancar sebagai karakter yang menghiasi kehidupan kita. Di antaranya ialah :

1. Takut popularitas.

Dari Ka’ab bin Malik r.a., Rasulullah SAW. bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar dikirim ke kambing lebih merusak melebihi ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi). Ka’ab bin Malik adalah seorang sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk karena bersantai-santai. Akibatnya dia mendapat hukuman yang berat, diboikot Rasulullah SAW dan para sahabat selama 50 hari. Tapi dia jujur dan mengatakan apa adanya pada Rasulullah SAW., tidak seperti yang dilakukan oleh kaum munafik. Ibnu Katsir meriwayatkan, pada saat kondisi sulit dan dunia terasa sempit, muncul tawaran suaka politik dari Raja Ghasan. Ia berkata “ini ujian juga!”, lalu surat tersebut dibakar. Ka’ab ikhlas menerima ujian itu dan menolak segala tawaran politik Raja Ghasan dengan segala kemewahan dan popularitasnya. Dan dia selamat, lebih dari itu peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an.

Bukanlah yang dimaksud kemudian mengasingkan diri dari realitas kehidupan. Popularitas pada dasarnya bukanlah sesuatu yang tercela. Namun mencari popularitas, ketenaran, jabatan dan kedudukan dengan cara-cara ilegal dan bertentangan dengan syariat ataupun hukum positif adalah sesuatu yang wajib dijauhi. Apalagi dengan mengorbankan kehormatan orang lain. Rasulullah SAW ditanya tentang seseorang yang berbuat kebaikan untuk Allah dan dipuji oleh orang lain. Beliau menjawab,”Itu adalah kebahagiaan orang mukmin yang disegerakan.”(HR Muslim).

2.  Curiga pada diri sendiri.

Orang yang ikhlas takkan pernah menyibukkan diri dengan ‘aib orang lain. Ia selalu jujur atas kekurangan dirinya sendiri dan ketidakmampuannya dalam menata batinnya. Suatu ketika A’isyah bertanya kepada Rasulallah s.a.w. tentang orang yang dimaksud dalam firman Allah “ Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al-Mu’minun [23]:60), apakah mereka para pencuri, pezina dan pemabuk?. Beliau menjawab,”Tidak wahai A’isyah. Mereka justru orang-orang yang gemar menunaikan shalat, puasa, shadaqah. Namun mereka selalu takut kepada Allah seandainya amalan mereka itu ditolak olehNya. Mereka adalah yang dimaksud dalam ayat Allah “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”. (Al-Mu’minun [23]:61).

3.  Tidak berharap pujian.

Seorang yang mukhlish mengharapkan segalanya dari Allah SWT semata. Kita tidak akan pernah tahu apakah amal yang lampau diterima oleh Allah SWT atau tidak sebagaimana kita tidak akan pernah mengetahui apakah yang akan menjadi kenyataan kita di esok hari. Lalu mengapa kita berharap pujian manusia? Bukankah itu karakter orang-orang munafiq yang dikecam dalam firmankanNya :”Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”. (Ali Imran [3]:188)

4.  Konsisten, sabar dan bertanggungjawab.

Keikhlasan mendorong kita untuk selalu bertahan dengan stamina prima, sabar sekaligus bertanggungjawab atas amanah yang dibebankan kepada kita. Khalid bin Walid mengajarkan kita makna mendalam dalam hal ini. Ketika beliau memimpin sebuah pasukan sebagai panglima perang melawan kaum musyrikin dan meraih prestasi militer gemilang, Khalifah Umar Ibn Khaththab memerintahkan untuk mundur dari jabatan panglima dan bergabung dengan pasukan Abu ‘Ubaidah ibn Jarrah sebagai tentara biasa. Tak sedikitpun ia canggung atau bahkan menggurui! Padahal ia sangat dikenal sebagai pimpinan tentara yang handal. Demikian pula potret keikhlasan yang diajarkan kepada kita oleh orang-orang seperti Bilal bin Rabah dan kelurga Yasir di masa awal Islam.

Seorang mukhlish takkan pernah memilah-milah tugasnya. Ia kerjakan dengan baik apa yang diamanahkan kepadanya. Karena ia tahu semuanya hanya lillahi ta’ala, bukan untuk apa dan siapapun. Rasulullah SAW bersabda, “Kebahagiaan bagi orang yang mengambil tali kekang kudanya pada jalan Allah, rambutnya terurai tak beraturan, kedua kakinya berdebu. Jika ia berada pada barisan belakang maka ia menetapi barisan tersebut. Dan jika ia berada pada barisan penjaga, maka ia pun menetapi barisan penjaga” (HR Bukhari).

Perhatikan pula lantunan Nabi Nuh ini “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”. (Nuh [71] : 5-7). Demikian pula orang-orang yang tegar di hadapan ashabul ukhdud berikut ini “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Buruj [85] : 4-9)

5.  Menjaga kesucian jiwa.

Keikhlasan senantiasa bersemayam pada jiwa yang suci, hati yang bening. Sambil menunjuk dadanya Rasulullah SAW berkata tiga kali “takwa berada di sini!”. (HR Muslim). Allah SWT berfirman “…orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya. Dan dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (al-Najm [53] : 32). Pada bagian lain Allah SWT bertitah “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia menunaikan shalat. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la [87]:14-17).

Diriwayatkan dari Al-Hasan berkata, “Ada sebuah pohon yang disembah manusia selain Allah. Maka seseorang mendatangi pohon tersebut dan berkata, “Saya akan tebang pohon itu”. Maka ia mendekati pohon tersebut untuk menebangnya sebagai bentuk marahnya karena Allah. Maka syetan menemuinya dalam bentuk manusia dan berkata, “Engkau mau apa?” Orang itu berkata, “Saya hendak menebang pohon ini karena disembah selain Allah”. Syetan berkata, “Jika engkau tidak menyembahnya, maka bukankah orang lain yang menyembahnya tidak membahayakanmu?” Berkata lelaki itu, “Saya tetap akan menebangnya”.

Berkata syetan, “Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagimu? Engkau tidak menebangnya dan engkau akan mendapatkan dua dinar setiap hari. Jika engkau bangun pagi, engkau akan dapatkan di bawah bantalmu”. Berkata si lelaki itu, “Mungkinkah itu terjadi?” Berkata syetan, “Saya yang menjaminnya”.

Maka kembalilah lelaki itu, dan setiap pagi mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya. Pada suatu pagi ia tidak mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya, sehingga marah dan akan kembali menebang pohon. Syetan menghadangnya dalam wujud aslinya dan berkata, “Engkau mau apa?”

Berkata lelaki itu, “Saya akan menebang pohon ini karena disembah selain Allah”. Berkata syetan, “Engkau berdusta, engkau akan melakukan ini karena diputus jalan rezekimu”. Tetapi lelaki itu memaksa akan menebangnya, syetan memukulnya, mencekik dan hampir mati, kemudian berkata, “Tahukah kau siapa saya?” Maka ia memberitahukan bahwa dirinya adalah syetan.

Syetan berkata, “Engkau datang pada saat pertama, marah karena Allah. Sehingga saya tidak mampu melawanmu. Oleh karena itu saya menipumu dengan dua dinar. Dan engkau tertipu dan meninggalkannya. Dan pada saat engkau tidak mendapatkan dua dinar, engkau datang dan marah karena dua dinar tersebut, sehingga saya mampu mengalahkanmu”.

Read Full Post »

Sudah banyak keterangan tentang kematian, salah satunya adalah tentang amalan. Bila kita meninggal, maka seluruh amalan kita akan terputus kecuali 3 amalan, yaitu:

  • Amal Ja’riyah
  • Ilmu yang bermanfaat
  • Anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.

Di dalam menilai kehidupan, ada baiknya bila dikembalikan pada ketiga aspek itu. Arti kata mengembalikan di sini adalah menilai diri sendiri, apakah kita sudah memiliki ketiga hal tersebut? Atau minimal dua hal saja? Kalaupun tidak, bisa cukup satu hal saja. Bila memang belum, ada baiknya jika kita mulai menginfestasikan hidup untuk mengumpulkan hal-hal tersebut.

Bagaimanapun juga, hidup manusia amatlah singkat. Bila kita terlambat, maka hanya penyesalan yang akan kita rasakan. Jangan sampai kita seperti yang dikatakan dalam  Alquran surat Al Ashr:

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS. Al ‘Ashr: 1-3]

Dalam surat tersebut, ada dua hal yang menjadi inti, yaitu kata Iman dan Amal Shaleh. Kedua hal ini tidak bisa terpisahkan.

Iman sendiri adalah sebentuk tali hubungan rahasia antara Allah dan manusia. Iman yang baik dan benar, memiliki tiga unsur penting, yaitu:

  • Keyakinan dalam hati
  • Ikrar lisan yang terucap
  • Realisasi dalam kehidupan

Realisasi iman merupakan hal yang penting. Bagaimanapun juga, bila iman diikrarkan tapi tidak diikuti dengan amal shaleh, bisa digolongkan kepada perbuatan munafik. Iman yang sesungguhnya, akan terpancar dari perbuatan sehari-hari. Hal ini akan mudah dilihat dalam cara bergaul dan memperlakukan sesama.

Jadi, bila ingin tahu level keimanan kita, kita hanya perlu melihat sejauh mana kita bisa merealisasikan keimanan kita. Parameter realisasi iman sendiri sebenarnya sudah banyak dicontohkan Rasulullah seperti tentang kebersihan.

Ada satu contoh kecil yang terjadi di negara ini. Umat Islam adalah umat mayoritas dengan jumlah 85% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Tapi WC yang paling bersih justru didapat di negara Jepang dan Singapura, negara yang notabenenya disebut sebagai negara orang-orang kafir.

Dari contoh itu saja, masih layakkah kita mengklaim diri sebagai umat terbaik? Padahal dari sisi kebersihan saja, kita masih belum bisa merealisasikannya dengan baik.

Iman tidak bisa dipegang, tapi bisa dirasakan tanda-tandanya. Kita bisa melihat kedalaman iman seseorang, justru dengan merasakan perilakunya. Oleh karena itu, sekarang ada baiknya bila kita mengintrospeksi diri kita. Apakah kita sudah cukup mampu menterjemahkan iman menjadi amal shaleh?

Secara fungsi, amal shaleh selalu digandengkan dengan iman. Dengan kata lain, amal shaleh berfungsi untuk memanifestasikan iman. Tapi sesungguhnya amal shaleh memerlukan syarat lain selain iman, yaitu ilmu dan keterampilan.

Amal shaleh tidak bisa hanya dilihat dari penampilan sehari-hari. Kita tidak bisa menunjuk si A adalah orang shaleh hanya karena wajahnya penuh senyum, shalatnya rajin, atau selalu berada di masjid. Kalau ukurannya hanya sebatas itu, ibadah kita sudah jelas kalah jauh oleh para malaikat yang pengabdiannya jauh lebih hebat.

Ada satu hal mutlak yang harus ada untuk melakukan amal shaleh, yaitu ilmu pengetahuan. Sebab amal shaleh yang benar adalah amal shaleh yang memperhatikan sunatullah. Untuk menyesuaikan diri dengan sunatullah, diperlukan ilmu pengetahuan yang benar.

Read Full Post »

Do’a Agar Anak Menjadi Sholeh

Do’a Agar Anak Menjadi Sholeh

04Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami             penyejuk  mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa”         (QS. Al Furqon:74)

Sesungguhnya bahwa hidayah dan taufik semata-mata dari Allah dan kita hanya bisa berusaha dan berusaha, namun namanya hidayah tetap kita serahkan pada-Nya.

Tidak usah jauh-jauh, cobalah kita perhatikan nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu para nabi. Lihatlah bagaimana kehidupan beliau. Perhatikanlah bahwa di waktu kecil saja, beliau dalam keadaan yatim, sudah ditinggalkan ibu bapaknya. Beliau tumbuh dalam keadaan fakir, lalu siapakah yang selalu menjaganya? Siapakah yang menumbuhkan keimanannya? Siapakah yang mewahyukan kitab suci Al Qur’an padanya? Dialah Allah subhanahu wa ta’ala, segala kenikmatan adalah dari-Nya, segala kemuliaan dan sanjungan berhak ditujukan pada-Nya.

Jika kita telah mengetahui hal ini, yakin bahwa yang memberi hidayah adalah Allah dan yakin pula bahwa setiap penjagaan adalah dari-Nya, maka hendaklah kita memanjatkan do’a pada-Nya agar anak dan keturunan kita menjadi sholeh dan baik. Mintalah pada-Nya agar keturunan kita senantiasa mendapat berkah, juga selamat dari berbagai bahaya dan kejelekan. Mintalah pada Allah, semoga mereka senantiasa mendapatkan perlindungan dari gangguan setan, manusia jahat, dan jin. Inilah kebiasaan orang sholih yang sebaiknya kita tiru.

Do’a Untuk Memperbaiki Keturunan

Do’a Pertama

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNA LILMUTTAQINA IMAMAA.” (Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqon:74)

Do’a Kedua

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

ROBBI AWZI’NI AN ASYKURO NI’MATAKALLATI AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOLIHAN TARDHOH, WA ASHLIH LII FI DZURRIYATIY” (Wahai Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku) (QS. Al Ahqof:15)

Semoga kita bisa mengamalkan do’a yang mudah dihafalkan ini. Semoga kita tidak jemu untuk selalu memanjatkan do’a kepada-Nya. Allah tidak mungkin membiarkan hamba-Nya yang menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu dia pulang dengan tangan hampa.

Read Full Post »