Feeds:
Posts
Comments

Puasa Syawal:

Puasa Seperti Setahun Penuh

Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌا أَبْوَابِ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى

“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai,…” (HR.Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)

Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.

Dianjurkan untuk Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshoriy, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)

Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh

Dari Tsauban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa Ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa Syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.

Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa Syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fitri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa Syawal tiga hari setelah Idul Fitri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa Syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal.

Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa Syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)

Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih Dahulu

Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.

Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)

Catatan: Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah SWT merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.

Kita ambil permisalan dengan shalat Dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan). Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa Syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa Ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!

Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa Sunnah

Permasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu, sekarang saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)

Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

SURAT KEPUTUSAN
KETUA DEWAN KEMAKMURAN MASJID (DKM) NURUL HASANAH
NOMOR: 03/MNH/2010

T E N T A N G
PANITIA KEGIATAN BULAN SUCI RAMADHAN
TAHUN 1431 H/2010 M

KETUA DEWAN KEMAKMURAN MASJID (DKM) NURUL HASANAH
PURI BINTARO RESIDENCE SERUA INDAH CIPUTAT

Bismillahirrahmanir rahim

Menimbang : a. bahwa untuk memakmurkan kegiatan bulan suci Ramadhan 1431 H diperlukan panitia kegiatan syiar Ramadhan 1431 H di masjid Nurul Hasanah;
b. bahwa untuk menjamin pelaksanaan kegiatan syiar Ramadhan 1431 H masjid Nurul Hasanah, perlu dibentuk Surat Keputusan tentang panitia dimaksud;
c. bahwa nama-nama yang dalam lampiran Surat Keputusan ini dipandang mampu dan cakap untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut di atas.

Mengingat : 1. Al-Qur’an ; al-Baqarah : 183-187, dan ayat- ayat lainnya yang terkait.
2. Rasulullah s.a.w. : “Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh syaithan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup , tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga ibuka hingga tidak ada satupun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru; “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allahlah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi. )
3. Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairoh RA berkata: berkata Rasulullah SAW: “Ketika telah masuk bulan Ramadhan maka dibuka pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka jahannam, dan dibeleggu semua syaithan”. Dalam Riwayat Bukhari yang lain; “ketika telah tiba bulan Ramadhan maka di bukakan pinti-pintu sorga”.

Memperhatikan : Rapat pembentukan panitia kegiatan syiar Ramadhan 1431 H tanggal 19 Juli 2010 oleh pengurus DKM di masjid Nurul Hasanah

M E M U T U S K A N
Menetapkan : KEPUTUSAN KETUA DEWAN KEMAKMURAN MASJID (DKM) NURUL HASANAH TENTANG PANITIA KEGIATAN SYIAR RAMADHAN MASJID NURUL HASANAH TAHUN 1431 H/2010 M

Pertama : Menetapkan Susunan panitia kegiatan syiar Ramadhan 1431 H di masjid Nurul Hasanah, sebagaimana terlampir dalam lampiran Surat Keputusan ini.
Kedua : Tugas panitia kegiatan syiar Ramadhan 1431 H di masjid Nurul Hasanah adalah sebagai berikut :
1. Bidang Ibadah ; (Menyelenggarakan Ibadah rutin di bulan Ramadhan)
a. Shalat Berjamaah 5 waktu
b. Shalat Tarawih
c. Kultum ba’da tarawih
d. Kultum ba’da subuh
e. Tadarus harian
f. I’tikaf di 10 hari terakhir
g. Mengadakan acara peringatan hari besar Islam “Nuzulul Qur’an”

2. Bidang Ifthor (Buka Puasa Bersama)
a. Mengadakan ta’jil/buka puasa harian untuk musafir & jamaah yang bekerja di area Kompleks Puri Bintaro Residence (PBR)
b. Mengadakan & mengkoordinir Ifthor mingguan bersama-sama seluruh warga Kompleks Puri Bintaro Residence (PBR)
c. Mendatangkan penceramah pada saat Ifthor Mingguan

3. Bidang TPA dan Pengajian Ibu-Ibu
a. Menyelenggarakan pengajian TPA bagi anak-anak
b. Mengadakan tadarus ibu-ibu dan remaja putri melalui pengajian khusus Akhwat
c. Mengatur dan menyiapkan nara sumber/pengajar untuk melaksanakan pengajian tersebut.

4. Bidang Pengumpulan Zakat Fitrah dan Pembagiannya
a. Mengkoordinir dan menerima pengumpulan zakat fitrah
b. Menyalurkan zakat fitrah kepada yang berhak
c. Berkoordinasi dengan kelurahan, RW dan pengurus masjid lain dalam penyaluran zakat

5. Bidang Shalat Iedul Fitri 1431 H
a. Menyelenggarakan shalat Idul Fitri bersama
b. Mendatangkan imam/khotib pada shalat Idul Fitri 1431 H
c. Mengadakan halal bi hala/silaturrahim seluruh warga PBR

6. Bidang Perlengkapan
a. Membuat spanduk kegiatan bulan suci Ramadhan 1431 H
b. Membuat spanduk kegiatan shalat Idul Fitri 1431 H
c. Menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan selama pelaksanaan kegiatan Ramadhan
7. Panitia membuat laporan pelaksanaan (progress report) setiap bidang dari panitia kegiatan syiar Ramadhan 1431 H kepada Ketua DKM Nurul Hasanah Perumahan Puri Bintaro Residence Serua Indah Ciputat.
Ketiga : Kepada panitia kegiatan syiar Ramadhan 1431 H panitia berhak memperoleh dana operasional sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) dari Dewan Kemakmuran Masjid Nurul Hasanah dan dipertanggungjawabk an ke dalam laporan akhir dari kegiatan syiar Ramadhan 1431 H.
Keempat : Apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam Surat Keputusan ini, maka Surat Keputusan akan ditinjau kembali dan dilakukan perbaikan.
Kelima : Surat Keputusan ini berlaku mulai Tahun 2010.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal :
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Hasanah Puri Bintaro Residence
H.M. Isom Yusqi
SUSUNAN PANITIA
KEGIATAN SYIAR RAMADHAN 1431 H/ 2010 M
MASJID NURUL HASANAH PURI BINTARO RESIDENCE
SERUA INDAH CIPUTAT
Penanggung Jawab : H.M. Isom Yusqi (Ketua DKM Masjid Nurul Hasanah)
Ketua : Bapak Budiman
Sekretaris : Bapak Sofian Hamid
Bendahara : Ibu Popon

1. Bidang Ibadah
Koordinator: H.M. Isom
Anggota:
1. Bapak Rahmat
2. Bapak Asep
Bapak Toni
3. Bapak Budi Hariyawan
4. Bapak Zarkoni
5. Bapak Sofian H
6. Bapak Lutfi (marbout)

2. Bidang Ifthor
Koordinator: Bapak Riri Chamdoris
Anggota :
1. Bapak Nanoeg
2. Bapak Merdi
3. Bapak Frans Sayogi
4. Ibu Dodi dan Ibu Eko tanggal 15 Agustus (Koordinator Jl Jeruk)
5. Ibu Gunawan dan Ibu Jul Indra Tanggal 21 Agustus (Koordinator Jl Jambu)
6. Ibu Manto dan Ibu Andes tanggal 22 Agustus (Koordinator Jl Sawo)
7. Ibu Hasan dan Ibu Riri tanggal 28 Agustus (Koordinator Jl Cheri, Cheri I & II dan Blok L)
8. Ibu Novan dan Ibu Zainul tanggal 29 agustus (Koordinator Koord Blok H dan I (besar) & Blok D)
9. Ibu Rozi dan Ibu Agus Tanggal 4 September (Koordinator Koord Blok J, I (kecil) dan Blok K)
10. Tanggal 5 september buka puasa PBR —> oleh seluruh warga PBR, (Koordinator seluruh panitia)
3. Bidang TPA dan Pengajian Ibu-ibu
Koordinator: Ibu Ecep
Anggota:
1. Ibu Johan
2. Ibu Manto
3. Ibu Budi Hariyawan
4. Ibu Asep
4. Bidang Zakat Fitrah
Koordinator: Bapak Johan
Anggota:
1. Bapak Mulyadi
2. Bapak Ecep
3. Bapak Suhendra
4. Bapak Agus Blok I
5. Bapak Izwar
5. Bidang Shalat Hari Raya Idul Fitri
Koordinator: Bapak Manto
Anggota:
1. Bapak Yoga
2. Bapak Agus Jl. Jambu
3. Bapak Tenang
4. Bapak Royce
5. Bapak Ramadhani (blok I)
6. Bidang Perlengkapan
Koordinator: Bapak Jul Indra
Anggota:
1. Bapak Rozi, Blok J
2. Bapak Eko, Blok H
3. Bapak Bambang, Jl. Jeruk
4. Bapak Slamet, Jl. Sawo

Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal :
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM)
Nurul Hasanah Puri Bintaro Residence
H.M. Isom Yusqi
JADWAL PETUGAS IMAM SHALAT DAN PENCERAMAH KULTUM
BULAN SUCI RAMADHAN 1431 H/2010 M
MASJID NURUL HASANAH
NO HARI DAN TANGGAL IMAM SHALAT ISYA’ IMAM SHALAT TARAWEH DAN SHALAT WITIR PENCERAMAH KULTUM
1 Selasa, 10/8/2010 H.M. Ishom Yusqi Sofian Hamid H.M. Ishom Yusqi
2 Rabo, 11/8/2010 Sofian Hamid Asep Saiful Bahri Sofian Hamid
3 Kamis, 12/8/2010 Asep Saiful Bahri Zarkoni Asep Saiful Bahri
4 Jum’at, 13/8/2010 Zarkoni Ulin Nuha Zarkoni
5 Sabtu,14/8/2010 Ulin Nuha Rahmat Ulin Nuha
6 Ahad, 15/8/2010 Rahmat Budiman Rahmat
7 Senen, 16/8/2010 Budiman H. Budi Hariyawan Budiman
8 Selasa, 17/8/2010 H. Budi Hariyawan H.M. Ishom Yusqi H. Budi Hariyawan
9 Rabo, 18/8/2010 H.M. Ishom Yusqi Sofian Hamid Johan
10 Kamis, 19/8/2010 Sofian Hamid Asep Saiful Bahri Joel Indra
11 Jum’at, 20/8/2010 Asep Saiful Bahri Zarkoni Frans Sayogi
12 Sabtu,21/8/2010 Zarkoni Ulin Nuha Merdi (RT 07)
13 Ahad, 22/8/2010 Ulin Nuha Rahmat Manto (RT 06)
14 Senen, 23/8/2010 Rahmat Budiman Agus Kamaluddin
15 Selasa, 24/8/2010 Budiman H. Budi Hariyawan Riri Chamdoris
16 Rabo, 25/8/2010 H. Budi Hariyawan H.M. Ishom Yusqi Toni
17 Kamis, 26/8/2010 H.M. Ishom Yusqi Sofian Hamid H.M. Ishom Yusqi
18 Jum’at, 27/8/2010 Sofian Hamid Asep Saiful Bahri Sofian Hamid
19 Sabtu,28/8/2010 Asep Saiful Bahri Zarkoni Asep Saiful Bahri
20 Ahad, 29/8/2010 Zarkoni Ulin Nuha Zarkoni
21 Senen, 30/8/2010 Ulin Nuha Rahmat Ulin Nuha
22 Selasa, 31/8/2010 Rahmat Budiman Rahmat
23 Rabo, 1/9/2010 Budiman H. Budi Hariyawan Budiman
24 Kamis, 2/9/2010 H. Budi Hariyawan H.M. Ishom Yusqi H. Budi Hariyawan
25 Jum’at, 3/9/2010 H.M. Ishom Yusqi Sofian Hamid Johan
26 Sabtu,4/9/2010 Sofian Hamid Asep Saiful Bahri Joel Indra
27 Ahad, 5/9/2010 Asep Saiful Bahri Zarkoni Frans Sayogi
28 Senen, 6/9/2010 Zarkoni Ulin Nuha Merdi (RT 07)
29 Selasa, 7/9/2010 Ulin Nuha Rahmat Manto (RT 06)
30 Rabo, 8/9/2010 Rahmat Budiman Agus Kamaluddin
31 Kamis, 9/9/2010 Budiman H. Budi Hariyawan Riri Chamdoris
32 Jum’at, 10/9/2010 H. Budi Hariyawan H.M. Ishom Yusqi Toni
Keterangan :
1. Petugas Adzan, Bilal dan Do’a adalah Bapak Lutfi Marbout
2. Para petugas Imam dan Penceramah diharap hadir tepat waktu
3. Petugas Imam Taraweh bertindak sebagai pemimpin tadarus setelah selesai shalat.
4. Shalat Taraweh dan Witir dilaksanakan 11 rakaat dengan ketentuan 4 rakaat, 4 rakaat dan witir 3 rakaat dengan sekali salam.

JADWAL PETUGAS IMAM SHALAT DAN PENCERAMAH SUBUH
BULAN SUCI RAMADHAN 1431 H/2010 M
MASJID NURUL HASANAH
NO HARI DAN TANGGAL IMAM SHALAT SUBUH PENCERAMAH SUBUH
1 Selasa, 10/8/2010 Sofian Hamid H.M. Ishom Yusqi
2 Rabo, 11/8/2010 Asep Saiful Bahri Sofian Hamid
3 Kamis, 12/8/2010 Zarkoni Asep Saiful Bahri
4 Jum’at, 13/8/2010 Ulin Nuha Zarkoni
5 Sabtu,14/8/2010 Rahmat Ulin Nuha
6 Ahad, 15/8/2010 Budiman Rahmat
7 Senen, 16/8/2010 H. Budi Hariyawan Budiman
8 Selasa, 17/8/2010 H.M. Ishom Yusqi H. Budi Hariyawan
9 Rabo, 18/8/2010 Sofian Hamid H.M. Ishom Yusqi
10 Kamis, 19/8/2010 Asep Saiful Bahri Sofian Hamid
11 Jum’at, 20/8/2010 Zarkoni Asep Saiful Bahri
12 Sabtu,21/8/2010 Ulin Nuha Zarkoni
13 Ahad, 22/8/2010 Rahmat Ulin Nuha
14 Senen, 23/8/2010 Budiman Rahmat
15 Selasa, 24/8/2010 H. Budi Hariyawan Budiman
16 Rabo, 25/8/2010 H.M. Ishom Yusqi H. Budi Hariyawan
17 Kamis, 26/8/2010 Sofian Hamid H.M. Ishom Yusqi
18 Jum’at, 27/8/2010 Asep Saiful Bahri Sofian Hamid
19 Sabtu,28/8/2010 Zarkoni Asep Saiful Bahri
20 Ahad, 29/8/2010 Ulin Nuha Zarkoni
21 Senen, 30/8/2010 Rahmat Ulin Nuha
22 Selasa, 31/8/2010 Budiman Rahmat
23 Rabo, 1/9/2010 H. Budi Hariyawan Budiman
24 Kamis, 2/9/2010 H.M. Ishom Yusqi H. Budi Hariyawan
25 Jum’at, 3/9/2010 Sofian Hamid H.M. Ishom Yusqi
26 Sabtu,4/9/2010 Asep Saiful Bahri Sofian Hamid
27 Ahad, 5/9/2010 Zarkoni Asep Saiful Bahri
28 Senen, 6/9/2010 Ulin Nuha Zarkoni
29 Selasa, 7/9/2010 Rahmat Ulin Nuha
30 Rabo, 8/9/2010 Budiman Rahmat
31 Kamis, 9/9/2010 H. Budi Hariyawan Budiman
32 Jum’at, 10/9/2010 H.M. Ishom Yusqi H. Budi Hariyawan
Keterangan :
1. Petugas Adzan, Bilal dan Do’a adalah Bapak Lutfi Marbout
2. Para petugas Imam dan Penceramah Subuh diharap hadir tepat waktu

Alhamdulillah kegiatan pengajian tanggal 18 Juli 2010 atau 6 sya’ban 1431H dalam rangka memperingati Isro’ Mi’raj 1431H dapat dilaksanakan dengan baik atas ridlo dari Allah SWT.

Ketika melihat banyaknya jamaah yang antusias datang rata-rata warga baru dari perumahan Puri Bintaro Residence, kami selaku DKM Masjid Nurul Hasanah sangat bersyukur dan senang karena adanya peningkatan yang cukup baik dari kegiatan-kegiatan sebelumnya, semoga saja kegiatan-kegiatan berikutnya terutama menjelang datangnya bulan suci ramadhan 1431H tetap istiqomah dan lebih banyak lagi jamaah yang aktif ke masjid termasuk sholat fardlu berjamaah.

Begitu khusyunya jamaah mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh Ust. Muhammad Yahya Adzikri ketika melantumkan ayat-ayat suci Alqur’an termasuk QS. Al-Israa’ ayat 1.
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS.Al-Israa':1]

Makna Keikhlasan

Ketika Adam telah sempurna diciptakan, Allah SWT bertitah agar seluruh malaikat sungkur bersujud sebagai simbol penghormatan atas kemuliaannya. Tak satupun di antara mereka membangkang terhadap perintah tersebut kecuali Iblis. Allah SWT bertanya, ”Hai Iblis, apa gerangan yang membuatmu enggan bersujud kepada sesuatu yang telah Kuciptakan dengan kedua TanganKu. Apakah kau menyombongkan diri ataukah kau merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi derajatnya?”. Dengan angkuh Iblis menyatakan keengganannya untuk bersujud karena ia merasa lebih baik; ia tercipta dari api sementara Adam tercipta dari tanah!. Sikap rasialis inilah kemudian membuatnya terusir dari surga dan menjadikannya sebagai makhluk terkutuk, “Sesungguhnya kutukanKu tetap atasmu sampai hari pembalasan!”.
Iblis “legowo” dengan keputusan tersebut. Namun ia tak kurang akal, Iblis mohon kepada Allah agar masa hidupnya ditangguhkan (langgeng) sampai hari ketika sangkakala ditiupkan, sebagai pertanda kematian semua makhluk. Iblis pun bersumpah,

قَالَ فَبِعِـزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّــهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Maka demi kekuasaan dan keagunganMu ya Rabb sungguh aku sesatkan semua keturunan Adam, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.”(Shaad[38]:82-83)

Para mufassir di antaranya Imam Thabari, Syaukani, al-Baidlawi dll. menjelaskan “mukhlasin” (dengan membaca fathah) pada ayat terbaca di atas bermakna orang-orang yang dimurnikan oleh Allah SWT hanya untuk beribadah kepadaNya dan diselamatkan dari tipu daya Iblis. Sebagian yang lain di antaranya al-Alusi, al-Qurthubi dan juga al-Baidlawi meriwayatkan bacaan dengan kasrah sehingga ia berbunyi “mukhlishin” yang berarti orang-orang yang mengikhlaskan (memurnikan) hati mereka untuk beribadah hanya kepada Allah SWT, membersihkan diri dari segala unsur yang merusak dan riya’.

Perbedaan qira’ah (bacaan) tersebut tidaklah kontradiktif. Keduanya dapat dipadukan untuk memahami bahwa kita takkan pernah selamat dari segala tipu daya Iblis di dunia ini kecuali dengan sikap ikhlas, sementara ikhlas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari karunia Allah SWT Ini berarti, keikhlasan hati yang telah kita raih tidak lain ialah atas izin, kehendak dan karuniaNya semata.

Narasi terbaca pada surat Shad [38]:82-83 di atas, dan ditegaskan pula dalam al-Hijr [15]:39-42 mengajarkan bahwa, kapasitas apapun yang kita miliki baik itu berupa ilmu pengetahuan, kehormatan, jabatan, integritas, harta, keturunan dan lain-lain takkan mampu menyelamatkan kita dari tipu daya Iblis yang sangat dahsyat itu. Dalam berinteraksi dengan jebakan dan godaan Iblis satu-satunya yang bermakna dan tak terkalahkan ialah “keikhlasan”. Wajar jika imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis demikian “Telah terbuka bagi mereka yang memiliki kejernihan hati melalui penginderaan iman dan cahaya Al-Qur’an bahwa sekali-kali tidaklah seseorang sampai pada kebahagiaan hakiki kecuali dengan ilmu dan ibadah. Manusia semuanya sengsara kecuali mereka yang berilmu. Orang-orang yang berilmu semuanya sengsara kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Orang-orang yang mengamalkan ilmunyapun semuanya sengsara kecuali mereka yang ikhlas. Sedangkan mereka yang ikhlas berada pada marabahaya yang besar karena beramal tanpa niat berarti kesia-siaan dan niat tanpa kemurnian berarti riya’. Sedangkan orang yang berlaku riya’ cukuplah dikatakan sebagai munafiq.”

Ikhlas adalah pembersihan hati dari segala noda, sedikit maupun banyak, sehingga kita mencapai taqarrub kepada Allah SWT hanya karenaNya semata. Tak mungkin hal ini kita raih kecuali atas dasar cinta (mahabbah) kepada Allah dan berorientasi akherat. Ikhlas adalah akumulasi dan titik perpaduan sejati antara hati yang bersih dan akhlak yang terpuji. Hati yang didominasi oleh mahabbah dan orientasi akherat melahirkan kebiasaan hidup yang penuh dengan nilai-nilai ilahiah. Demikian pula hati yang sarat dengan tujuan duniawi, jabatan, kekayaan dan apa saja selain Allah SWT seluruh gerak hidupnya akan melahirkan malapetaka yang membinasakan dirinya sendiri.

Islam mengajarkan kita bahwa kehidupan hakiki dan abadi ialah kehidupan akherat. Dunia menjadi ladang investasi dan medan berkarya untuk meraih kehidupan yang kekal itu. Dunia bukan tujuan, melainkan sebuah ruang transit, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke negeri akherat. Di sini, mati bermakna sebagai gerbang menuju kampung abadi. Juga menjadi pintu pertemuan kita dengan Sang Khaliq, Dzat Pencipta kita. Di sini pula, Rasulullah SAW melantunkan satu bagian dari do’a panjang beliau, “Ya Allah, anugerahi aku rasa rindu dan cinta untuk segera bertemu dengan Dzat-Mu Yang Maha Agung.”

Karakter dan orientasi manusia dalam berbuat diterangkan pula oleh Allah SWT. :”Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akherat.” (Ali Imran [3]:152).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا. وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra’[17]:18-19).

Motivasi beramal yang “hanya” berorientasi dunia samata juga dikecam oleh Rasulullah SAW dalam sabda berikut ini: “Celakalah penghamba dinar. Celakalah penghamba dirham. Celakalah penghamba khamishah jika ia diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.”(HR Bukhari).

Khamishah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan sulaman atau garis-garis yang menarik dan amat indah. Pesan moral dalam hadis di atas ialah teguran keras terhadap orang-orang yang sangat ambisius dengan kekayaan duniawi, sehingga ia terbelenggu dan menjadi penghamba harta benda. Mereka, tegas Nabi SAW, adalah berhak untuk celaka dan sengsara. Bandingkan dengan kisah tiga orang yang diadili oleh Allah SWT; seorang qari’/intelek yang hendak dihormati karena ilmunya, seorang yang mati syahid karena ingin dikatakan sebagai pahlawan pemberani dan seorang dermawan yang hendak populer dengan murah hatinya. Ketiganya bangga dengan prestasi hidupnya masing-masing. Tapi pada akhirnya, final kehidupan mereka mengenaskan : dicampakkan ke neraka!(HR Muslim).

Ciri-ciri orang Mukhlish

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, keikhlasan akan terpancar sebagai karakter yang menghiasi kehidupan kita. Di antaranya ialah :

1. Takut popularitas.

Dari Ka’ab bin Malik r.a., Rasulullah SAW. bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar dikirim ke kambing lebih merusak melebihi ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi). Ka’ab bin Malik adalah seorang sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk karena bersantai-santai. Akibatnya dia mendapat hukuman yang berat, diboikot Rasulullah SAW dan para sahabat selama 50 hari. Tapi dia jujur dan mengatakan apa adanya pada Rasulullah SAW., tidak seperti yang dilakukan oleh kaum munafik. Ibnu Katsir meriwayatkan, pada saat kondisi sulit dan dunia terasa sempit, muncul tawaran suaka politik dari Raja Ghasan. Ia berkata “ini ujian juga!”, lalu surat tersebut dibakar. Ka’ab ikhlas menerima ujian itu dan menolak segala tawaran politik Raja Ghasan dengan segala kemewahan dan popularitasnya. Dan dia selamat, lebih dari itu peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an.

Bukanlah yang dimaksud kemudian mengasingkan diri dari realitas kehidupan. Popularitas pada dasarnya bukanlah sesuatu yang tercela. Namun mencari popularitas, ketenaran, jabatan dan kedudukan dengan cara-cara ilegal dan bertentangan dengan syariat ataupun hukum positif adalah sesuatu yang wajib dijauhi. Apalagi dengan mengorbankan kehormatan orang lain. Rasulullah SAW ditanya tentang seseorang yang berbuat kebaikan untuk Allah dan dipuji oleh orang lain. Beliau menjawab,”Itu adalah kebahagiaan orang mukmin yang disegerakan.”(HR Muslim).

2.  Curiga pada diri sendiri.

Orang yang ikhlas takkan pernah menyibukkan diri dengan ‘aib orang lain. Ia selalu jujur atas kekurangan dirinya sendiri dan ketidakmampuannya dalam menata batinnya. Suatu ketika A’isyah bertanya kepada Rasulallah s.a.w. tentang orang yang dimaksud dalam firman Allah “ Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al-Mu’minun [23]:60), apakah mereka para pencuri, pezina dan pemabuk?. Beliau menjawab,”Tidak wahai A’isyah. Mereka justru orang-orang yang gemar menunaikan shalat, puasa, shadaqah. Namun mereka selalu takut kepada Allah seandainya amalan mereka itu ditolak olehNya. Mereka adalah yang dimaksud dalam ayat Allah “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”. (Al-Mu’minun [23]:61).

3.  Tidak berharap pujian.

Seorang yang mukhlish mengharapkan segalanya dari Allah SWT semata. Kita tidak akan pernah tahu apakah amal yang lampau diterima oleh Allah SWT atau tidak sebagaimana kita tidak akan pernah mengetahui apakah yang akan menjadi kenyataan kita di esok hari. Lalu mengapa kita berharap pujian manusia? Bukankah itu karakter orang-orang munafiq yang dikecam dalam firmankanNya :”Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”. (Ali Imran [3]:188)

4.  Konsisten, sabar dan bertanggungjawab.

Keikhlasan mendorong kita untuk selalu bertahan dengan stamina prima, sabar sekaligus bertanggungjawab atas amanah yang dibebankan kepada kita. Khalid bin Walid mengajarkan kita makna mendalam dalam hal ini. Ketika beliau memimpin sebuah pasukan sebagai panglima perang melawan kaum musyrikin dan meraih prestasi militer gemilang, Khalifah Umar Ibn Khaththab memerintahkan untuk mundur dari jabatan panglima dan bergabung dengan pasukan Abu ‘Ubaidah ibn Jarrah sebagai tentara biasa. Tak sedikitpun ia canggung atau bahkan menggurui! Padahal ia sangat dikenal sebagai pimpinan tentara yang handal. Demikian pula potret keikhlasan yang diajarkan kepada kita oleh orang-orang seperti Bilal bin Rabah dan kelurga Yasir di masa awal Islam.

Seorang mukhlish takkan pernah memilah-milah tugasnya. Ia kerjakan dengan baik apa yang diamanahkan kepadanya. Karena ia tahu semuanya hanya lillahi ta’ala, bukan untuk apa dan siapapun. Rasulullah SAW bersabda, “Kebahagiaan bagi orang yang mengambil tali kekang kudanya pada jalan Allah, rambutnya terurai tak beraturan, kedua kakinya berdebu. Jika ia berada pada barisan belakang maka ia menetapi barisan tersebut. Dan jika ia berada pada barisan penjaga, maka ia pun menetapi barisan penjaga” (HR Bukhari).

Perhatikan pula lantunan Nabi Nuh ini “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”. (Nuh [71] : 5-7). Demikian pula orang-orang yang tegar di hadapan ashabul ukhdud berikut ini “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Buruj [85] : 4-9)

5.  Menjaga kesucian jiwa.

Keikhlasan senantiasa bersemayam pada jiwa yang suci, hati yang bening. Sambil menunjuk dadanya Rasulullah SAW berkata tiga kali “takwa berada di sini!”. (HR Muslim). Allah SWT berfirman “…orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya. Dan dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (al-Najm [53] : 32). Pada bagian lain Allah SWT bertitah “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia menunaikan shalat. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la [87]:14-17).

Diriwayatkan dari Al-Hasan berkata, “Ada sebuah pohon yang disembah manusia selain Allah. Maka seseorang mendatangi pohon tersebut dan berkata, “Saya akan tebang pohon itu”. Maka ia mendekati pohon tersebut untuk menebangnya sebagai bentuk marahnya karena Allah. Maka syetan menemuinya dalam bentuk manusia dan berkata, “Engkau mau apa?” Orang itu berkata, “Saya hendak menebang pohon ini karena disembah selain Allah”. Syetan berkata, “Jika engkau tidak menyembahnya, maka bukankah orang lain yang menyembahnya tidak membahayakanmu?” Berkata lelaki itu, “Saya tetap akan menebangnya”.

Berkata syetan, “Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagimu? Engkau tidak menebangnya dan engkau akan mendapatkan dua dinar setiap hari. Jika engkau bangun pagi, engkau akan dapatkan di bawah bantalmu”. Berkata si lelaki itu, “Mungkinkah itu terjadi?” Berkata syetan, “Saya yang menjaminnya”.

Maka kembalilah lelaki itu, dan setiap pagi mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya. Pada suatu pagi ia tidak mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya, sehingga marah dan akan kembali menebang pohon. Syetan menghadangnya dalam wujud aslinya dan berkata, “Engkau mau apa?”

Berkata lelaki itu, “Saya akan menebang pohon ini karena disembah selain Allah”. Berkata syetan, “Engkau berdusta, engkau akan melakukan ini karena diputus jalan rezekimu”. Tetapi lelaki itu memaksa akan menebangnya, syetan memukulnya, mencekik dan hampir mati, kemudian berkata, “Tahukah kau siapa saya?” Maka ia memberitahukan bahwa dirinya adalah syetan.

Syetan berkata, “Engkau datang pada saat pertama, marah karena Allah. Sehingga saya tidak mampu melawanmu. Oleh karena itu saya menipumu dengan dua dinar. Dan engkau tertipu dan meninggalkannya. Dan pada saat engkau tidak mendapatkan dua dinar, engkau datang dan marah karena dua dinar tersebut, sehingga saya mampu mengalahkanmu”.

amanah

Di komplek Perumahan Puri Bintaro Residence baru-baru ini telah mengadakan pemilihan ketua RT, siapapun yang terpilih berarti telah mengemban amanah yang cukup besar, artinya ketua RT sebagai pengayom warga harus mempunyai rasa tanggung jawab dalam memimpin, membina warganya dalam segala aktivitas dilingkungan warganya.

Akan tetapi Amanah ketua RT tentulah tidak akan berjalan mulus apabila tidak didukung dan dibantu dalam menjalankan amanahnya.

Berbicara tentang orang-orang yang akan menentukan masa depan bangsa ini, tak lepas dari membicarakan masalah amanah. Di tengah berbagai konflik yang ada, mampukah mereka menjalankan amanah itu?

Kata “amanah” adalah suatu kata yang besar dalam Islam. Bila dilihat berdasarkan syariat, amanah ini pengertiannya sangat luas dan mendalam. Mulai dari “menyimpan rahasia” hingga “menjalankah sesuatu yang menjadi perjanjian atau tugas”.

Amanah adalah akhlak dari para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang-orang yang paling baik dalam menjaga amanah. Tidak heran bila Rasulullah dikenal sebagi orang yang paling terpercaya, terutama dalam menjalankan amanah.

Ada empat elemen penting dalam konsep amanah, yaitu:

  1. Menjaga hak Allah SWT
  2. Menjaga hak sesama manusia
  3. Menjauhkan dari sifat abai dan berlebihan, artinya amanah memang harus disampaikan dalam kondisi tepat, tidak ditambahi atau dikurangi
  4. Mengandung sebuah pertanggungjawaban

Perlu dicatat, amanah sangat berkaitan dengan akhlak yang lain, seperti kejujuran, kesabaran, atau keberanian. Karena untuk menjalankan amanah, perlu keberanian yang tegas. Amanah sebagai salah satu unsur dalam Islam, membuktikan bawah salah satu fungsi agama adalah memberikan nilai pada kehidupan. Apalagi, amanah dititipkan pada hal-hal kecil, bukan hanya hal-hal besar saja.

Islam mengajarkan bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tak ada agama bagi orang yang tak berjanji. Ini berarti amanah adalah bagian dari iman. Sehingga mereka yang tidak menjaga amanah, termasuk pada golongan orang-orang yang tidak beriman. Selain itu, agama juga mengajarkan kita untuk berjanji dan menepatinya karena itu bagian dari kehidupan.

Lebih lanjut, berbicara amanah juga merujuk pada golongan manusia yang termasuk para pemimpin. Bagaimanapun juga, kita semua merupakan pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga. Sehingga, nanti kita pasti akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban tentang kepempinan kita. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Al Anfaal ayat 27:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Dari ayat di atas, kita bisa lihat bahwa Allah benar-benar dengan tegas melarang sifat khianat. Rasulullah pun dengan tegas mendidik orang untuk menjalankan amanah, bahkan sedari kecil. Misalnya, ada satu kisah tentang seorang anak kecil bernama Abdullah. Pada suatu hari, dia disuruh ibunya menyampaikan setandan anggur kepda Rasulullah. Tapi di jalan, mungkin karena kehausan, beberapa anggur dimakan oleh Abdullah. Ketika anggur itu diberikan, Rasulullah mengetahui hal itu dan seketika itu juga Rasulullah menjewer telinga Abdullah sambil mengucapkan kalimat, “Hai pengkhianat,” sebanyak tiga kali.

Dalam hal ini, kita bisa lihat, bahwa menjaga amanah itu sangat penting dan memiliki konsekuensi yang besar untuk orang-orang yang mengabaikan amanah. Begitu besarnya, hingga bumi, langit, dan gunung pun takut melanggarnya. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Al Ahzab ayat 72:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al Ahzab : 72)

Bila mereka saja takut, bukankah kita seharusnya lebih takut? Karena kitalah yang akhirnya dititipi amanah itu dan nantinya akan ditanya tentang pertanggungjawabannya.

Sudah banyak keterangan tentang kematian, salah satunya adalah tentang amalan. Bila kita meninggal, maka seluruh amalan kita akan terputus kecuali 3 amalan, yaitu:

  • Amal Ja’riyah
  • Ilmu yang bermanfaat
  • Anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.

Di dalam menilai kehidupan, ada baiknya bila dikembalikan pada ketiga aspek itu. Arti kata mengembalikan di sini adalah menilai diri sendiri, apakah kita sudah memiliki ketiga hal tersebut? Atau minimal dua hal saja? Kalaupun tidak, bisa cukup satu hal saja. Bila memang belum, ada baiknya jika kita mulai menginfestasikan hidup untuk mengumpulkan hal-hal tersebut.

Bagaimanapun juga, hidup manusia amatlah singkat. Bila kita terlambat, maka hanya penyesalan yang akan kita rasakan. Jangan sampai kita seperti yang dikatakan dalam  Alquran surat Al Ashr:

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS. Al ‘Ashr: 1-3]

Dalam surat tersebut, ada dua hal yang menjadi inti, yaitu kata Iman dan Amal Shaleh. Kedua hal ini tidak bisa terpisahkan.

Iman sendiri adalah sebentuk tali hubungan rahasia antara Allah dan manusia. Iman yang baik dan benar, memiliki tiga unsur penting, yaitu:

  • Keyakinan dalam hati
  • Ikrar lisan yang terucap
  • Realisasi dalam kehidupan

Realisasi iman merupakan hal yang penting. Bagaimanapun juga, bila iman diikrarkan tapi tidak diikuti dengan amal shaleh, bisa digolongkan kepada perbuatan munafik. Iman yang sesungguhnya, akan terpancar dari perbuatan sehari-hari. Hal ini akan mudah dilihat dalam cara bergaul dan memperlakukan sesama.

Jadi, bila ingin tahu level keimanan kita, kita hanya perlu melihat sejauh mana kita bisa merealisasikan keimanan kita. Parameter realisasi iman sendiri sebenarnya sudah banyak dicontohkan Rasulullah seperti tentang kebersihan.

Ada satu contoh kecil yang terjadi di negara ini. Umat Islam adalah umat mayoritas dengan jumlah 85% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Tapi WC yang paling bersih justru didapat di negara Jepang dan Singapura, negara yang notabenenya disebut sebagai negara orang-orang kafir.

Dari contoh itu saja, masih layakkah kita mengklaim diri sebagai umat terbaik? Padahal dari sisi kebersihan saja, kita masih belum bisa merealisasikannya dengan baik.

Iman tidak bisa dipegang, tapi bisa dirasakan tanda-tandanya. Kita bisa melihat kedalaman iman seseorang, justru dengan merasakan perilakunya. Oleh karena itu, sekarang ada baiknya bila kita mengintrospeksi diri kita. Apakah kita sudah cukup mampu menterjemahkan iman menjadi amal shaleh?

Secara fungsi, amal shaleh selalu digandengkan dengan iman. Dengan kata lain, amal shaleh berfungsi untuk memanifestasikan iman. Tapi sesungguhnya amal shaleh memerlukan syarat lain selain iman, yaitu ilmu dan keterampilan.

Amal shaleh tidak bisa hanya dilihat dari penampilan sehari-hari. Kita tidak bisa menunjuk si A adalah orang shaleh hanya karena wajahnya penuh senyum, shalatnya rajin, atau selalu berada di masjid. Kalau ukurannya hanya sebatas itu, ibadah kita sudah jelas kalah jauh oleh para malaikat yang pengabdiannya jauh lebih hebat.

Ada satu hal mutlak yang harus ada untuk melakukan amal shaleh, yaitu ilmu pengetahuan. Sebab amal shaleh yang benar adalah amal shaleh yang memperhatikan sunatullah. Untuk menyesuaikan diri dengan sunatullah, diperlukan ilmu pengetahuan yang benar.

bencana_acehKenapa Aku Diuji?
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut : 2-3)

Kenapa Aku Tidak Mendapatkan Apa Yang Aku Idam-Idamkan?
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah : 216)

Kenapa Ujian Seberat Ini?
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah : 286)

Rasa Frustasi?
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Imran : 139)

Bagaimana Aku Harus Menghadapinya?
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Imran : 200)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. (QS. Al-Baqarah : 45)

Apa Yang Aku Dapat Dari Semua Ini?
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At-Taubah : 111)

Kepada Siapa Aku Berharap?
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal”. (QS. At-Taubah : 129)

Aku Tak Dapat Bertahan Lagi!
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf : 87)

Jalan hidup kita tentunya tidak selalu indah sebagaimana yang diharapkan. Demikian juga dengan kadar iman yang naik dan bisa saja turun dengan drastisnya. Ujian tentunya bukan hanya selalu dibungkus dengan kesengsaraan saja bukan?, melainkan ia dapat dilukiskan dengan kesuksesan, prestasi, kebahagiaan dan lain sebagainya. Saat kita mengalami ‘kekosongan’ dalam melewati sebuah episode hidup, diri ini malah menjauh dari-Nya. Siratan rasa ketidakadilan akibat dari pengharapan dan cita-cita terbesar yang belum juga dikabulkan-Nya sering membuat kita  ‘ngambek’ berdemo dengan ‘mogok ibadah’. Padahal sikap demikian malah akan membuat kita semakin jauh dari-Nya bukan?

Ada apa dengan kehidupan kita? Mengapa kita selalu saja tertinggal dari orang lain dalam segala hal? Mengapa hidup tak seindah pengharapan? Mengapa teman-teman dan orang-orang di sekeliling kita selalu saja mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan? Mengapa..mengapa dan mengapa. Tak kan habis pertanyaan-pertanyaan senada yang lahir dari hati ini. Kita tidak tahu, mungkin saja mereka juga mengalami hal yang sama dengan kita dan telah melewatinya dengan berdo’a, ikhtiar dan intropeksi diri dalam waktu yang kita tidak tahu berapa lama. Hanya saja mereka melewatinya lebih dulu dari pada kita.

Sahabat, apa yang membuat hati ini menjadi ternoda adalah karena kita terkadang memandang keberhasilan orang lain dengan sinis. Timbul iri hati dan cemburu akibat membandingkan diri yang jauh dibawah nya. Sudah seharusnya kita bisa menjadi sahabat untuk diri sendiri, berdamai dengan segala kekurangan dan keberhasilan yang mungkin saja masih tertunda. Menghujat diri sendiri dengan berbagai penyesalan dan menyalahkan diri tidak akan merubah segalanya menjadi lebih baik. Mulai sekarang mari katakan pada diri kita …

Wahai diriku, aku bahagia memiliki jiwa dan raga ini, aku bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah kepadaku. Jika aku saat ini belum menjadi orang yang berhasil, maka aku tidak perlu bersedih dan kawatir, Allah pasti memiliki jalan yang mugkin saja berbeda dari orang lain untuk membuat hidupku menjadi lebih baik dan berarti. Jika bukan saat ini, mungkin esok atau lusa, minggu depan atau pun tahun depan. Tapi diriku harus jauh-jauh dari yang namanya kufur nikmat dan husnudzon terhadap Allah Swt dan selalu bersyukur dalam setiap keadaan. Wahai diriku, mulai detik ini jadikanlah makna dari ayat-ayat diatas menjadi penolong dan petunjuk hidupmu. Insya Allah, Dia akan selalu menyertai dan menjagamu dalam setiap denyut nadimu. Tapi ingat, semua itu harus disertai ikhtiar dan do’a. Betul? Let’s start it with Bismillah …”

Insya Allah artikel yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an diatas dapat membesarkan hati kita bahwa kita hidup tidak sendiri. Selalu ada Allah dalam hati dan hidup kita dan Allah tidak akan membiarkan Hamba-Nya dalam keterpurukan yang berkepanjangan. Alangkah baiknya jika mulai sekarang kita menjadikan diri sebagai pribadi yang selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah kita rasakan. Jangan terlalu memandang ‘keatas’ yaitu orang-orang yang nikmat hidupnya melebiihi kita. Kita sering lupa bahwasanya masih banyak saudara-saudara kita yang hidup nya jauh dari kemapanan, serba kekurangan dan lain sebagainya. Akan ada jalan keluar bagi hamba-Nya yang mau berusaha merubah nasib dan Allah swt telah memberi jalan dan petunjuk hidup yang telah diatur-Nya dalam Al-Qur’an agar hidup kita menjadi tentram.

Sebagaimana firman Allah Swt :

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi kalau kalian kufur, ingatlah sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih “  (QS . Ibrahim :7 ).

Sesungguhnya syukur itu adalah mengagungkan Allah Yang Memberi Nikmat, yakni mengukur nikmat-Nya agar kita tidak menjauhi diri dan tidak bersifat kufur. Insya Allah hal tersebut dapat kita raih dengan senantiasa berdo’a dan ikhtiar dalam memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang dicinta dan disayang Allah swt dan Rasulullah serta selalu dalam kesyukuran baik dalam suka maupun duka.

Wallahua’lam bishawab.

Ya Allah, ampunilah hamba yang telah berprasangka buruk terhadap-Mu,
bukakanlah pintu ampunan bagi hamba yang kian gersang hatinya ini,
jamah dan siramilah jiwa raga ini dengan hidayah, cinta dan kasih sayang-Mu,
agar kefuturan yang selama ini kian menguasai diri dapat terlepas dari belenggunya..
Amiiin..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.